Pagi tadi, seperti biasa.. aku berangkat pake ojek ke kantor. Memang beberapa hari belakangan ini aku suka naik ojek ke kantor, walaupun beda ongkosnya 5rb kalo aku naik angkot.. lumayan sih tapi kalo dibandingkan waktunya.. wuiiii jauuuh.. ya jelaslah karena ga pake macet macetan.
Sebenernya aku ga punya ojek pribadi, tapiii... entah kenapa beberapa kali aku dianter sama ojek yang 1 ini seruuuu deh..
Bayangin aja 3 kali naik ojek dia, 3 kali pula dia menggunakan jalan yang berbeda untuk 1 tujuan, yaitu kantor.
Beliau bisa menunjukkan shortest way yang pastinya GPS ga bisa kasih.. waaaww..
Nah, pagi tadi aku diajak ke jalur ke-4.. jeng jeng jeng.. dia lewatin jalur taman anggrek yang romantis deeeh,, *hahaha
Yup, di belakang ragunan itu ternyata ada jalur taman anggrek, yang bagus banget.. Bisa lah untuk referensi temen-temen kalau mau membeli bunga anggrek atau tanaman hias lainnya, atau selain itu jalur tersebut juga biasanya dipakai untuk track bersepeda.
Lewat situ pagi-pagi sejuuuuk banget.. berasa lg di kebun teh.. hehe
Jadi, kesimpulannya aku makin suka deh naik ojek sama Bapak itu, kira-kira besok dia lewat mana lagi yaaaa... :)
Sumber Gambar : Google
Label: curhat
Gw percaya semua hal, dari yang terkecil sekalipun adalah takdir Tuhan.
Yang salah adalah gw sebagai human, jarang mengingat nikmat yang telah diberikan-Nya, dari lahir sampai hari ini.
Kesadaran itu hanya datang disaat gw ditimpa musibah, disaat gw terjebak pada situasi yang memuakkan, dan segudang hal yg kita sebut sebagai masalah hidup..
Kita memang kadang lupa, sering mengingat Tuhan saat sedih, tapi saat senang kita mengagung-agungkan kefanaan duniawi.
Tak pernah puas, itulah pointnya.. Penuh dengan impian, penuh dengan obsesi hidup.
Sibuk mengejar kekayaan duniawi, sampai keinginan menguasai dunia.
Dengan apa?? dengan mengingkari nikmat Tuhan??
Mungkin manusia seperti kita harusnya berada di surga, di mana semua kebutuhan dan keinginan dan bahkan mimpi terliarpun terpuaskan (seperti yang dikatakan).
Obsesi dan gairah menjadi nihil dan membuat segalanya menjadi tidak relevan.
Sampai akhirnya kita menyadari, bahwa obsesi tak ayalnya sama seperti bahasa,
Bahasa membangun realitas dunia.
Bahasa membentuk definisi,
dan menjadi panduan yang salah disetiap langkah yang kita ambil.
Namun pada akhirnya kita menyadari bahwa obsesi hanyalah rentetan kata-kata, kata-kata dari apa yang kita labeli sebagai kehidupan yang lebih baik.
Dunia ini, adalah sebuah kamus.
Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk belajar lebih banyak definisi, A sampai Z. Lalu kita akan memahami kebahagiaan sejati dengan bersyukur dan menjalani hidup dengan obsesi yang realistis.
Label: goresan pemikiran, renungan